Kami hadir untuk melayani anda yang berdomisili di wilayah kabupaten Ponorogo,kabupaten Madiun,kota Madiun,dan sekitarnya.
Untuk wilayah madiun dan Magetan,PT.DEWA ARYSTAMA telah hadir di Dolopo,tepatnya di jalan raya Dolopo tepatnya di depan Bank Danamon Dolopo juga depan Pegadaian Dolopo.Sedangkan di Ponorogo kami membuka cabang di selatan kompleks terminal Seloaji Ponorogo,tepatnya di utara SPBU Cekok
kantor di dolopoPengalaman Gadis Muslim AS Berhijab
Friday, 12 February 2010 13:57
Adakalanya perempuan berhijab menghadapi tantangan dalam masyarakat, tapi bukan berarti
harus menyerah
Hidayatullah.com--Sara Uddin tersenyum sambil memperbaiki hijab hitamnya setelah
menunaikan shalat Jumat bersama sejumlah Muslim laki-laki dan perempuan.
Keluar dari ruangan, ia telah bersiap diri menghadapi aneka pertanyaan, tatapan, bahkan
anggapan negatif tenang sehelai kain yang menutupi kepalanya.
"Saya ingin mengalahkan semua stereotipe dengan hijab ini, dan cara satu-satunya adalah
dengan membicarakannya," ujar Sara kepada IslamOnline.
Sara, gadis berusia 22 tahun, telah mengenakan hijab selama hampir 4 tahun.
"Pertama kali saya mengenakannya ketika duduk di SMA di San Diego, California. Rasanya
menyenangkan. Tempat itu sangat beragam dan orang-orang menampakkan budaya dan
kepercayaan yang berbeda-beda," katanya mengenang.
"Namun ketika saya kembali ke Washington, saya mendapati sejumlah tatapan (sinis) dari
komunitas non-Muslim. Saya paham, mungkin situasinya berbeda."
Sara mengatakan, meskipun ia tidak menerima serangan nyata karena jilbabnya, namun
pandangan negatif sering diterimanya.
"Menurut saya bagus jika saya dikomentari, karena itu berarti kesempatan untuk menunjukkan
siapa saya, dan mengapa saya melakukannya (berhijab)."
Dalam Islam hijab adalah sebuah kewajiban, bukan sebuah simbol relijius yang menandakan
afiliasi seseorang terhadap suatu aliran.
"Saya orang Amerika, saya dilahirkan di sini dan memiliki teman-teman di sini," kata gadis yang
bekerja di bank itu penuh percaya diri.
1 / 3
Pengalaman Gadis Muslim AS Berhijab
Friday, 12 February 2010 13:57
"Dan saya adalah seorang Muslim. Ini (hijab) adalah bagian dari aturan Islam, dan saya
berpegang teguh padanya."
Meskipun tidak ada data resmi, diperkirakan ada 7-8 juta Muslim yang menetap di Amerika
Serikat.
Bagi Amina Saleh, 24 tahun, hijab tidak pernah menjadi halangan untuk meraih cita-citanya.
"Sekarang saya bekerja di bidang kesehatan masyarakat, dan saya berjumpa dengan banyak
orang setiap harinya. Saya tidak pernah merasa hijab menjadikan saya kurang kompeten di
mata mereka."
Amina, yang bermukim di Maryland dengan orangtua dan kedua saudara perempuannya,
belum mengenakan hijab ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Amerika 13 tahun lalu
bersama keluarga.
Ketika usianya memasuki 20 tahun, Amina merasa perlakuan orang terhadapnya tidak banyak
berubah.
Berbeda dengan Amina, Jasmin Ullah, meyakini ada banyak stereotipe dalam masyarakat AS
terhadap hijab. Dan kadang sulit untuk menghadapinya.
"Ketika Anda memasuki sebuah ruangan, mereka tidak berharap Anda langsung berbicara
secara terbuka," kata Jamin yang masih berusia 16 tahun.
"Di dalam pikiran mereka berkata, “tak mungkin ia benar-benar menginginkannya (mengenakan
hijab). Mereka pasti berpikir, Anda perempuan penurut yang hanya bisa manut saja, yang tidak
memiliki kebebasan untuk berbicara."
Jasmin yang mengenakan hijab sejak usia 11 tahun, yakin ada banyak rintangan--tapi bukan
halangan-- bagi perempuan Muslim yang berhijab di Amerika.
"Pasca 9/11 Amerika semakin penuh prasangka daripada sebelumnya," ujar gadis dari
Herndon, Virginia Utara itu.
2 / 3
Pengalaman Gadis Muslim AS Berhijab
Friday, 12 February 2010 13:57
Sara setuju dengan pendapat itu. Adakalanya hijab menjadi penuh tantangan bagi gadis dan
wanita Muslim dalam masyarakat mereka.
"Menurut saya, itu menjadi alasan lain mengapa kita harus membicarakan hijab secara
terbuka," katanya kukuh.
"Bahkan jika banyak rintangan, saya tetap berpegang teguh," tegasnya.
Jasmin, gadis keturunan Banglades, mengatakan bahwa gadis dan wanita Muslim harus selalu
mencari cara untuk mengatasi setiap rintangan dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan
dalam hidup ini.
"Sebagai contoh saya ingin berenang, dan ternyata itu agak sulit. Namun, hijab saya tidak
boleh menjadi halangan. Justru harus memacu saya untuk mencari jalan kreatif, untuk
melakukan hal yang saya sukai dengan tetap berhijab."
Jasmin meyakini, resep jitu bagi para gadis yang berhijab adalah harus menjadi dirinya sendiri.
"Jika Anda seorang aktivis politik, jangan takut untuk menyampaikan pandangan-pandangan
Anda. Jika Anda seorang atlit, kejarlah prestasi itu. Jika Anda di dalam kelas, maka harus
pandai."
"Allah tidak menginginkan kita menyerah atas keadaan." katanya bijak. [di/iol/ wwwhiayatulla
h.com ]
3
“Tak Ada Jalan Buntu, Selama Yakin Pada Allah”
Friday, 02 April 2010 10:23
Ia pernah jaya dengan usaha jual beli. Tapi ujian menerpanya hingga semua hartanya ludes.
Bagaimana ia kembali bangkit?
Hidayatullah.com--Dalam mengarungi samudra kehidupan, menusia laksana sebuah roda.
Kadang ia berada di atas, kadang pula ia berada di bawah. Begitu pula dengan kisah hidup
Azam, pria asal Bojonegoro, Jawa Timur.
Dikisahkan olehnya, ketika ia dalam masa kejayaan, bukan hanya rumah yang menjadi simbol
kekayaannya. Mobil yang berjumlah tiga buah, juga menjadi fasilitas yang melengkapi
kemewahan yang ia miliki. Belum lagi hasil dari usaha yang ia geluti, jual beli beras, yang
omzetnya mencapai 25 ton per-bulan.
Namun malang tidak bisa dihindari, ketika roda kehidupan bergelinding membawanya ke posisi
dasar. Usahanya bangkrut, dan utang bertebaran di sana-sini. Inilah kisahnya yang ditulis
dengan bahasa tutur.
***
Kisah ini saya mulai dari sejarah masuknya saya ke lembaga dakwah. Saya bergabung pada
tahun 1995, setelah menyelesaikan studi di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP),
Surabaya tahun 1994, jurusan Fisika.
Langkah bergabung dengan lembaga dakwah bukan langkah mudah. Keputusan ini, sungguh
sangat bertentangan dengan keinginan orangtuaku yang ingin aku menjadi seorang pegawai
negeri (PNS). Maklum, di desa, jarang anak mengenyam bangku kuliah. Apalagi, statusku
sebagai sarjana Fisika. Merekapun selalu memaksaku, bahkan tidak jarang dengan
menggunakan bahasa yang –kadang-kadang- tidak mengenakkan. Namun, laksana karang di
lautan, tekadku untuk berdakwah dan bergabung di sebuah lembaga dakwah tak pernah
runtuh, sampai akhirnya mereka pun menyerah.
Saya memilih sebuah lembaga dakwah, sebagai ‘pelabuhan’, karena saya melihat keindahan
1 / 4
“Tak Ada Jalan Buntu, Selama Yakin Pada Allah”
Friday, 02 April 2010 10:23
Islam di sana, yang sebelumnya tidak pernah saya saksikan di beberapa lembaga lain.
Bagaimana para penghuninya menghormati tamu, sungguh mengesankan. Belum lagi melihat
para awak yang senantiasa menjaga keistiqomahan dalam menunaikan shalat jama’ah dan
shalatul lail (tahajjud), menjadi daya pengikat tersendiri. Pemandangan semacam inilah yang
membuat hatiku berbunga-bunga, dan mendesakkan hati untuk segera berbabung.
Selain itu, dulu, di era Orde Baru (Orba) yang sangat otoriter ditambah kejaman Orba, rekayasa
intelijen kepada umat Islam yang sangat kasar, membuatku merasa enggan untuk
mendaftarkan diri menjadi PNS.
Setelah tiga bulan aktif, saya memutuskan untuk mengakhiri masa lajang, maka nikahlah aku
dengan seorang wanita asal Surabaya, yang notabenya adalah teman kuliah.
Sambil menikmati bulan madu, aku mulai aktif di lembaga dakwah. Berbagai amanah pernah
saya emban, mulai dari wakil kepala sekolah (Waka), bendahara Yayasan, dan berbagai
amanah lain.
Apapun yang diamanahkan oleh lembaga kepadaku, dengan sekuat tenaga akan aku lakukan
dengan sebaik-baiknya.
Merintis Bisnis
Ditengah-tengah kesibukan sebagai aktivis dakwah, pada 1998, aku memberanikan diri untuk
terjun di dunia enterpreunership (kewirausahaan). Dan bisnis yang menjadi incaran adalah
jual-beli beras dari desa ke kota.
Bisnis ini aku pilih, karena memang pada saat itu, pasar Surabaya sedang membutuhkan
asupan beras yang tinggi. Peluang inilah yang aku baca, kemudian terjun di dalamnya. Adapun
daerah asal penyuplaian, saya pilih Bojonegoro karena kabupaten ini merupakan salah satu
penghasil beras terbanyak di Jawa Timur (Jatim).
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hanya dalam waktu satu tahun, aku mampu
meraih keuntungan yang cukup besar. Aku telah mampu mengontrak rumah yang lumayan
megah. Mobil tidak hanya satu, aku beli tiga sekaligus. Bila dikalkulasi, omzetku saat itu,
mampu mencapai 25 ton, tiap bulannya. Padahal, jujur, modal yang saya gunakan untuk
memulai bisnis ini hanya keberanian. Tak sepeser pun uang saya keluarkan untuk memulai
bisnis ini. Bukan karena apa-apa, tapi memang tidak ada.
Saya datang ke Bojonegoro menemui salah satu juragan beras di sana, kemudian menjelaskan
prihal bisnis yang sedang saya rancang. Ia menyetujui untuk menjadi mitra kerja. Pada awal
pengiriman, dia hanya memberikan 3 ton. Lambat-laun, setelah mengetahui perkembangan
bisnis ini sangat masif, beliau pun akhirnya berani mengirim seberapapun jumlah yang saya
butuhkan.
Bisnis ini terus berjalan dengan lancar, hingga memasuki tahun 2001. karena begitu mudahnya
rizki hinggap ke pangkuanku, maka sempat timbul sifat arogansi (sombong) dalam diri. Pernah
2 / 4
“Tak Ada Jalan Buntu, Selama Yakin Pada Allah”
Friday, 02 April 2010 10:23
pada suatu saat, aku hampir ‘ketiban durian jatuh’. Uang sebesar Rp 2,2 Milyar hampir aku
dapat namun akhirnya lenyap. Padahal, bisa dikatakan uang tersebut tinggal sejengkal saja
menjadi hak milik saya.
Usut punya usut, mungkin, penyebabnya karena kesombonganku. Ceritanya, ketika
mengetahui akan mendapat rizki nomplok, aku berkata ke pada istriku, “Bu, lihatlah, siapa
diantara teman-temanku yang mampu mendapatkan uang Rp. 2,2 Milyar dalam umur semuda
aku?” Maklunm kala itu, umurku masih 34 tahun. Tak disangka, kekotoran hati seperti itulah,
rupanya, yang kemudian menjadi boomerang dan biang kehancuran bisnisku.
Roda Berbalik
Selain sifat takabbur yang pernah menyelinap di hati, aku merupakan orang yang paling sering
ditipu oleh mitra bisnis. Meskipun aku telah berhati-hati dalam bertindak, tapi tetap saja
penipuan itu berlanjut. Mungkin itu adalah salah satu bentuk teguran Allah kepadaku. Puncak
dari penipuan itu terjadi pada tahun 2002. saat itu, tersebutlah P.T Pohon Mas dan Goldquest
yang mengajak untuk berkerja sama dengan cara menanam saham. Setelah dijelaskan
bagaimana sistem kerjanya, aku pun tertarik. Uang sebesar Rp 50 juta, aku serahkan langsung
tanpa curiga. Lalu apa yang terjadi? Ternyata itu hanyalah modus penipuan. Maka lenyaplah
uang itu entah-brantah.
Mulai dari sinilah bisnisku macet. Untuk menutupinya, mobil aku jual, selain itu aku pun
berusaha mencari pinjaman ke teman-teman. Karena tidak mencukupi, maka akhirnya aku
putuskan untuk meminjam di beberapa Bank seperti; BRI, BNI, Niaga, Permata. Gali lobang
untuk tutup lobang.
Aku benar-benar menjadi orang yang terlilit hutang. Bahkan, karena tidak mampu lagi
membayar kontrakan rumah, aku dan keluarga harus menumpang di rumah mertua.
Tiga tahun kondisi memprihatinkan tak juga berlalu. Di tengah kekalutan itu, ada kabar yang
mengagetkan bahwa rumah yang kami tempati itu akan dijual oleh mertua. Ibaratnya, sudah
jatuh tertimpa tangga. Aku tak bisa berfikir lagi, mau dibawa kemana keluarga saya ini?.
Meskipun saya punya banyak famili, tapi aku tidak akan melibatkan mereka dalam kasus ini.
Singkat cerita, rumah mertua akhirnya terjual seharga Rp. 130 Juta. Dari hasil penjualan, bapak
(mertua) memberi kami Rp. 20 juta. Namun belum genap berumur satu minggu, uang itu sudah
ludes untuk mencicil hutang-hutangku yang menumpuk. Istriku menangis, sebab, sedianya
uang itu akan kamu gunakan untuk mengontrak rumah. Tapi, apalah daya, si-pengutang terus
berdatangan menagih.
Di tengah kekalutan, aku datangi temanku. Aku sampaikan permasalahanku dan aku utarakan
bahwa saat ini aku sedang butuh kontrakan. Melalui perantaranyalah aku dipertemukan dengan
seorang pemilik rumah. Setelah bertemu si-empunya, aku dibingungkan dengan uang
kontrakan yang mencapai Rp 16 juta yang tak mungkin kumili. (sebelumnya, rumah ini ada
yang ingin mengontrak sebesar Rp. 36 juta), Lallahu’alam, Karena kelembutan hatinya, kami
dipersilahkan menempati rumah tersebut. Sebagai ganti, aku diminta untuk bekerja dengannya.
3 / 4
“Tak Ada Jalan Buntu, Selama Yakin Pada Allah”
Friday, 02 April 2010 10:23
Rumah berukuran 9x10 meter persegi itulah, yang sejatinya bekas kantor, akhirnya menjadi
tempat kami sekeluarga bernaung hingga saat ini. Allahuakbar! Puji syukur ku terus kuucapkan
kepada Allah yang telah memudahkan segala urusanku.
Membangun Strategi
Setelah mendapat tempat tinggal yang pasti, saya mencoba menata ulang kehidupan. Aku
melamar untuk menjadi agen sebuah majalah Islam. Al-hamdilillah diterima. Pelangganku juga
lumayan banyak. Untuk majalah, berkisar 30 orang, buletin 50. Selain itu, aku juga berjualan
kecil-kecilan. Karena pernah aktif di sebuah lembaga zakat, akupun ditawari untuk menjadi
konsultan seuah lembaga zakat.
Selain disibukkan dengan urusan di atas, aku juga diamanahi untuk merintis badan ‘amil zakat.
Melalui aktivitas-aktivitas inilah, aku bisa kembali bangkit dari sebelumnya. Bahkan, pada bulan
Oktober tahun lalu, rumah yang kami (yang semula kontrak telah resmi jadi milik kami). Karena
aku telah membelinya seharga Rp 180 juta.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya mampu menanggung beban seberat ini?dan
mampu kembali bangkit?. Jawabannya mungkin satu. Dalam menjalani kehidupan, aku memiliki
satu prinsip yang membuatku teguh dan tak mudah runtuh.
“Tidak ada jalan buntu selama kita pasrahkan semua urusan kepada Allah.” Sekalipun saat itu
saya tidak memiliki sepeser uang, tetapi dengan prinsip itu, Allah senantiasa memperkuat diriku
untuk mampu menghadapi ujian demi ujian.
Sebagai gambaran betapa mujarabnya prinsip tersebut, pernah pada bulan suci Ramadhan,
kami kebingungan untuk membayar zakat fitrah. Uang yang kami punya tidak cukup untuk
memenuhi kewajiban itu. Namun alhamdulillah, tanpa disangka-disangka, Allah memberi rizki
kami melalui salah satu sahabatku. Sangat luar biasa. Saya senantiasa berpesan kepada Anda,
mulai saat ini, libatkanlah Allah dalam setiap urusan kita. InsyaAllah, semuanya akan terasa
lebih mudah. [Robin Sah/cha/www.hidayatullah.com]
4 / 4










Tidak ada komentar:
Posting Komentar